Serangan AS–Israel ke Iran Memicu Alarm Global, Teheran Sebut Dunia di Ambang Eskalasi Besar

  • Inung R Sulistyo
  • Rabu, 11 Maret 2026 | 01:35 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Ilustrasi bendera Iran berkibar di tengah puing dan kobaran api di wilayah konflik Timur Tengah.
Ilustrasi bendera Iran berkibar di tengah puing dan kobaran api di wilayah konflik Timur Tengah. (Foto: Riwara.id)

RIWARA.id, JAKARTA -  Konflik yang bergulir cepat di Timur Tengah kini menyeret dunia pada ketegangan baru. Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta menyampaikan pernyataan keras terkait rangkaian serangan yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran sejak akhir Februari 2026.

Dalam keterangan pers yang dikutip Riwara.id dari akun Instagram @iraninindonesia pada Rabu, 11 Maret 2026, Teheran menuduh operasi militer gabungan tersebut telah menewaskan lebih dari 1.300 anak-anak dan warga sipil serta menghancurkan ribuan fasilitas sipil.

Angka itu muncul dari laporan resmi pemerintah Iran yang mencatat sedikitnya 9.669 target sipil rusak atau hancur selama sepuluh hari eskalasi konflik, sejak 28 Februari hingga 9 Maret 2026.

Bagi Iran, serangan ini bukan sekadar operasi militer. Teheran menyebutnya sebagai “agresi brutal” yang melanggar hukum internasional dan mengancam stabilitas kawasan.

Namun di tengah klaim yang keras itu, dunia juga dihadapkan pada pertanyaan besar: seberapa jauh konflik ini akan berkembang?

Pergantian Kepemimpinan di Tengah Perang

Di tengah gempuran yang diklaim terus berlangsung, Iran juga mengumumkan perubahan besar dalam struktur kepemimpinannya.

Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, disebut gugur dalam serangan pada awal eskalasi konflik.

Sebagai penggantinya, Dewan Pakar Kepemimpinan Iran atau Assembly of Experts memilih putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran.

Pemilihan tersebut diklaim memperoleh dukungan lebih dari 85 persen suara anggota dewan.

Dalam pernyataan yang dirilis kedutaan, Iran menegaskan bahwa sistem politiknya tidak bergantung pada satu individu.

“Republik Islam Iran adalah sistem yang berdiri di atas supremasi hukum, suara rakyat, dan nilai-nilai Ilahi,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Pernyataan itu juga menegaskan bahwa meski kehilangan pemimpin tertinggi dan sejumlah komandan militer senior, negara tersebut akan tetap melanjutkan perlawanan.

Infrastruktur Sipil Jadi Sasaran

Selain korban jiwa, kerusakan fisik yang disebut Iran juga sangat besar.

Menurut data yang disampaikan Kedutaan Iran, serangan selama sepuluh hari telah menghancurkan:

7.943 unit rumah tinggal

1.617 pusat perdagangan dan layanan

32 pusat medis dan farmasi

65 sekolah dan fasilitas pendidikan

13 gedung Bulan Sabit Merah

Serangan terhadap fasilitas sipil tersebut, menurut Iran, merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional.

Salah satu insiden yang disebut paling tragis terjadi di kota Minab. Iran mengklaim sebuah sekolah dasar dihantam serangan udara yang menewaskan lebih dari 175 siswi sekolah dasar.

Jika klaim ini terbukti benar, tragedi tersebut berpotensi menjadi salah satu peristiwa paling mematikan bagi anak-anak dalam konflik modern di Timur Tengah.

Namun hingga kini belum semua klaim tersebut mendapat verifikasi independen dari lembaga internasional.

Serangan di Laut Lepas

Salah satu tuduhan paling serius yang disampaikan Iran berkaitan dengan serangan terhadap kapal perang mereka.

Teheran menyebut kapal perang IRIS Dena menjadi sasaran serangan Amerika Serikat di perairan internasional.

Menurut Iran, kapal tersebut berada lebih dari 2.000 mil laut dari pantai Iran dan sedang menuju India atas undangan Angkatan Laut India untuk mengikuti program pelatihan.

Serangan itu diklaim menewaskan 104 personel militer Iran.

Bagi Teheran, insiden ini tidak hanya memperluas skala konflik, tetapi juga membuka potensi ketegangan baru di jalur pelayaran internasional.

Jika benar terjadi di perairan internasional, serangan terhadap kapal militer dalam kondisi non-tempur dapat memicu perdebatan panjang mengenai hukum perang dan hukum laut internasional.

Ira n Meluncurkan Operasi Balasan

Dalam pernyataan yang sama, Iran menyatakan telah meluncurkan operasi militer balasan terhadap Israel.

Operasi tersebut disebut sebagai bagian dari “Operasi Janji Setia 4”, sebuah rangkaian serangan yang diklaim menargetkan fasilitas militer Israel.

Iran menegaskan bahwa langkah tersebut dilakukan berdasarkan hak membela diri yang diatur dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya Pasal 51 yang memberikan hak bagi negara untuk mempertahankan diri dari agresi bersenjata.

Teheran menyatakan angkatan bersenjatanya akan menggunakan seluruh kemampuan militer yang dimiliki hingga agresi dihentikan atau hingga Dewan Keamanan PBB mengambil langkah resmi.

Namun Iran juga menegaskan bahwa serangan terhadap pangkalan militer Amerika di kawasan tidak ditujukan kepada negara-negara tempat pangkalan tersebut berada.

Pesan itu secara implisit ditujukan kepada negara-negara Timur Tengah yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat.

Diplomasi yang Retak

Di balik pertempuran militer, Iran juga melontarkan tuduhan keras terhadap Amerika Serikat dalam bidang diplomasi.

Teheran menyatakan tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap negosiasi dengan Washington.

Iran menilai Amerika Serikat telah tiga kali mengkhianati proses diplomasi, yaitu:

Penarikan sepihak Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action pada 2018.

Serangan terhadap Iran pada Juni 2025 saat proses perundingan masih berlangsung.

Serangan militer terbaru pada 28 Februari 2026 setelah putaran kedua perundingan.

Men urut Iran, rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomasi dengan Washington tidak lagi dapat dipercaya.

Pernyataan ini menandai kemungkinan berakhirnya upaya diplomatik yang selama beberapa tahun terakhir mencoba meredakan ketegangan antara Iran dan Barat.

Dampak Global yang Mengintai

Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memiliki potensi dampak yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah.

Iran adalah salah satu pemain penting dalam jalur energi global. Ketegangan militer di kawasan tersebut dapat memengaruhi stabilitas pasar energi dunia, termasuk harga minyak dan gas.

Selain itu, keterlibatan Amerika Serikat membuka kemungkinan konflik yang lebih luas dengan berbagai sekutu regional Iran.

Sejumlah pengamat geopolitik juga mengingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah sering kali membawa dampak global—mulai dari krisis energi hingga gangguan jalur perdagangan internasional.

Seruan Iran kepada Dunia

Menutup pernyataannya, Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mengutuk keras serangan yang mereka tuduhkan kepada Amerika Serikat dan Israel.

Iran juga meminta komunitas global mengambil langkah nyata untuk menghentika n konflik tersebut.

Menurut Teheran, tindakan militer yang terjadi saat ini telah membawa kawasan Timur Tengah ke tingkat ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bagi Iran, konflik ini bukan sekadar perang regional.

Mereka menilainya sebagai pertarungan yang dapat menentukan arah stabilitas global di masa depan.

Dan bagi dunia internasional, pertanyaannya kini bukan lagi apakah konflik ini serius—melainkan seberapa jauh eskalasi berikutnya akan terjadi.*

 

Kedutaan Besar Iran di Jakarta mengungkap klaim lebih dari 1.300 warga sipil tewas dalam serangan AS dan Israel sejak 28 Februari 2026. Iran juga mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News